radio streaming

Selasa, 24 Juni 2014

DAIRI DALAM KILATAN SEJARAH

(Teks ini dipetik dari buku DAIRI DALAM KILATAN SEJARAH, karangan Jansen Sinamo, Flores Tanjung, dan Hasudungan Sirait).

Pegunungan Bukit Barisan melintang di sepanjang Pulau Sumatera dengan posisi yang jauh lebih dekat ke pantai barat. Tanah Dairi terl...etak di lintangan ini. Kedudukannya: di utara berbatasan dengan Karo, di timur laut dengan Karo dan Simalungun, di timur dengan Simalungun dan Samosir, di tenggara dengan Samosir dan Humbang Hasundutan, di selatan dengan Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah (Manduamas yang sejajar dengan Barus), dan Aceh (termasuk Singkil). Adapun perbatasan mulai dari barat daya hingga barat laut adalah Aceh.
Tanah Dairi biasa juga disebut ”Tanah Pakpak” sebab penduduk aslinya memang orang Pakpak. Sejak tahun 2003 Dairi sebagai kabupaten telah dipecah. Hasilnya adalah Kabupaten Pakpak Bharat di belahan selatan. Dengan begitu wilayah Kabupaten Dairi yang semula sekitar 314.000 hektar kini kurang lebih tinggal separo. Setelah pemecahan ternyata sebutan “Tanah Pakpak” tadi masih saja jamak dipakai. Wajar memang sebab penamaan tersebut sudah sejak dahulukala. Bukankah tak mudah mengubah sebuah kebiasaan lama? Dalam kitab ini pun kedua sebutan masih akan dipakai bergantian untuk mengacu hal yang sama.
Tadi telah disebut Dairi berada di lintangan Bukit Barisan. Konsekuensinya adalah kedudukannya di dataran tinggi dengan posisi lebih dekat ke pantai barat. Beratmosfir pegunungan, itulah Dairi. Konturnya bertakik-takik; di sejumlah kawasan bahkan ekstrim sehingga dinding-dinding bukit terjal dan jurang menjadi pemandangan yang dominan. Rata-rata ketinggian wilayah kawasan ini 700-1.250 meter di atas permukaan laut (dpl). Sebagian kecil kawasan sampai berketinggian 1.600 meter dpl. Sidikalang sendiri, ibukota Dairi, berada di ketinggian 1.066 meter dpl. Iklim Dairi mudah ditebak. Bukan berhawa panas dan lembab alias tropis, melainkan di bawahnya. Bisa disebut subtropis. Hasil alamnya yang khas pun becorak produk hutan pegunungan: kapurbarus, kemenyan, nilam, dan kopi, itu yang paling mashyur sejak dulu. Belakangan ada gambir, kemiri, dan jagung.
Sebenarnya Dairi tak seberapa jauh dari ibukota Sumatera Utara. Jarak Medan-Sidikalang hanya berkisar 150 kilometer. Jarak yang dalam kondisi normal bisa dicapai sekitar tiga jam dengan kendaraan pribadi. Lintasannya eksotik sehingga pasti disukai para penikmat alam. Katakanlah kita akan melawat ke Sidikalang. Setelah meninggalkan Medan kita akan disambut alam Karo yang elok. Jalan menuju Berastagi yang menanjak berkelok-kelok kemungkinan akan kontan mengingatkan kita pada kitaran Cisarua-Puncak-Cipanas, terutama sejak lokasi pemandian Sembahe. Hutan terjaga yang menghampar di sepanjang kedua sisi jalan menuju Sibolangit merupakan kelebihan kawasan ini dibanding jalur Puncak yang tersohor. Sejak dari Berastagi ladang menghampar menjadi penampakan yang umum. Pun selewat Kabanjahe dan Merek yang di sisinya menghampar Tongging dan tepi Danau Toba bagian utara. Nyata betul bahwa agribisnis merupakan penghidup penduduk Karo. Namun, selepas wilayah Karo atmosfirnya menjadi lain.

Setelah melewati perladangan yang penampakannya tak serapi yang di Tanah Karo, hutan sekarang yang membentang. Lae Pondom namanya, dibelah oleh jalan beraspal milik negara. Sampai awal 1980-an penumpang bus sesekali masih bisa melihat harimau melintas di atas aspal tersebut. Masih terjaga, Lae Pondom adalah hutan subtropis khas Indonesia. Mereka yang ingin mengetahui seperti apa gerangan atmosfir hutan Indonesia yang sebagian besar sudah punah sebaiknya datang ke kawasan penyumbang utama air untuk Danau Toba ini[1]. Setelah Lae Pondom kemudian Sumbul yang menjelang. Lantas Sitinjo dan akhirnya Sidikalang.
Kendati Medan-Sidikalang tak jauh dan lintasannya eksotik, tak banyak orang dari ibukota provinsi Sumatera Utara itu yang pernah menjejak bumi Dairi. Biasanya sampai kota wisata Berastagi saja mereka. Yang lanjut hanya sebatas mereka yang berkampung di Tanah Pakpak atau menjalankan urusan dinas ke sana. Satu lagi, yang akan menghadiri pesta adat. Kalau orang Medan saja demikian, bisa dibayangkan mereka yang berasal dari tempat lain yang lebih jauh. Namun, keadaan mulai berubah setelah Taman Wisata Iman (TWI), di Sitinjo, pinggir Sidikalang, berdiri tahun 2005. Sejak itu tanah Dairi mulai dijejak oleh turis termasuk dari Jakarta bahkan mancananegara. Sesungguhnya keterpencilan Dairi sebelum pembukaan TWI ini merupakan ironi. Terutama kalau kita mengingat sejarah lama.
****
Kapurbarus
Tanah Dairi sebenarnya sejak lama telah berhubungan dengan dunia luar, termasuk mancanegara. Kontak itu memang tidak langsung, melainkan lewat Barus, tetangga di selatan. Sudah sejak zaman prasejarah Barus termashyur sebagai bandar internasional. Dan untuk ketersohoran tersebut, Tanah Pakpak punya kontribusi besar. Sayang sampai sekarang andil ini hampir luput dari catatan sejarah. Sebelum membahasnya, kita telaah dulu Barus dengan kebesaran masa lalunya.
Barus masa lalu—sebutan lainnya Fansur (Arab) dan Pansur (Batak)—identik dengan dua hal, yakni kamper atau kapur barus dan penyair mistik Hamzah Fansuri yang memang lama tinggal di sana. Di antara keduanya kamperlah yang paling lekat dengan nama tempat ini. Dalam pengetahuan umum kota kecil di pantai barat Sumatera inilah penghasil kamper yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya.
Sejak lama, sebelum tarikh Masehi, kamper yang di negeri kita bersebutan “kapurbarus” telah menjadi komoditas dunia. Barang ini dahulu bernilai tinggi, setara emas. Maksudnya satu kilogram kamper bernilai tukar sekilogram emas. Mahal karena faedah atau khasiatnya banyak. Penggunaannya yang jamak adalah di dunia pengobatan (ketabiban dan kedokteran) serta keobatan (farmasi). Menurut kisah lawas, champor (kapurbarus) menjadi salah satu unsur ramuan yang dipakai dalam mengawetkan jasad penguasa Mesir (firaun) terkemuka, Ramses II. Mummi raja yang berkuasa pada kurun tahun 1279-1213 sebelum Masehi tersebut telah dibawa ke Paris tahun 1974 untuk diperiksa. Masalahnya hasil pembalseman tersebut (kini berada di Meseum Mesir) kian rusak saja digerogoti jamur. Cerita lain menyebut salah satu wewangian yang dibawa kaum Majus sebagai persembahan untuk bayi Yesus yang baru lahir di Betlehem kapurbarus juga. Kemenyan disebut juga bagian dari seserahan mereka kala itu; hanya saja tak disebut dari mana asalnya.
Ihwal kapur dari Barus sudah ada catatannya di awal tarikh Masehi. Salah satunya dibuat Claudius Ptolemaeus (90-168) seorang Yunani Alexandria (Mesir) yang merupakan ahli astronomi, astrologi, dan geografi terkemuka. Dalam karya akbarnya, Geographia, ia menyebut Barousai penghasil kamper. Kalaupun tak dicatat, di masa itu ihwal kapurbarus setidaknya sudah dipercakapkan dalam pelbagai bahasa, termasuk Yunani, Syria, Cina, Tamil, Arab, Armenia, Jawa, dan Melayu.[2]
Sejak abad ke-6 kapur dari Barus dikenal di berbagai kawasan yang terbentang dari Cina ke Laut Tengah yang memisahkan Eopa dengan Afrika. Sebab itu, catatan tentang komoditas ini pun makin banyak. Tersebutlah catatan dari Dinasti Liang dari Cina selatan (abad ke-6), I-tsing (tahun 692), Ibnu Chordhadhbeh (tahun 846), Marco Polo (tahun 1292), dan Ibnu Batutah (tahun 1345), misalnya. I-tsing adalah seorang rahib Buddha yang sempat tinggal bertahun-tahun di Sriwijaya saat berziarah dari Cina ke India. Marco Polo seorang pengelana Italia yang sempat singgah di Pasai (Aceh). Ibnu Batutah orang Berber dari Tangier (Afrika Utara). Dia kemungkinan telah menjejak tanah Barus dalam perjalanan ke pantai barat Sumatera.
Kendati telah banyak disebut, sejauh itu belum jelas yang mana sebenarnya Barus, negeri sumber kamper “yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya” itu. Tabir Barus masih saja gelap. Pasalnya pelukisan oleh para penjelajah-penulis tadi tidaklah sama. Ptolemaeus, misalnya, menggambarkan Barrous sebagai kawasan lima pulau. Penulis lain ada yang menyebut lokasinya di Semenanjung Malaka. Di Aceh adanya, tulis yang lain. Perujuk Barus sekarang memang ada juga. Jauh dari sinkron informasi mereka; simpang siur jadinya. Kekarut-marutan penggambaran ini tentu mudah kita pahami. Pada masa I-tsing, Ibnu Chordhadhbeh, Marco Polo, atau Ibnu Batutah pengetahuan geografis orang masih sangat terbatas sebab pelayaran lintas benua masih sangat sedikit dan teknologi navigasi masih begitu sederhana. Apalagi di masa Ptolemaeus.
****
Simpang Siur
Kesimpangsiuran ini berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang pun masih ada ahli yang meragukan bahwa Barus sekaranglah yang dirujuk sebagai sumber kamper “yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya” itu. Dasar keraguan mereka ada beberapa. Pertama, sejak dulu kamper tak hanya datang dari Barus sekarang, tapi juga dari Borneo (Kalimantan), Semenanjung Malaka, dan Jepang. Sebagai catatan, kamper—sebuah bahan keras, bisa berupa pasir—merupakan hasil oksidasi minyak yang terdapat dalam sel-sel khusus yg mengeluarkan bahan ini. Sel-sel ini terdapat di semua bagian pohonnya. Terdapat dua jenis kamper dari keluarga berbeda: (1) Dryobalanops aromatica Gaertn dari keluarga Dipterocarpaceae mengasilkan kapur Borneo dan (2) Cinnamonum camphora (L.), Nees, dan Ebern dari keluarga Lauraceae atau kamper Jepang. Jenis pertama ini jauh lebih bernilai secara ekonomis. Hanya setelah kamper hasil pabrikan muncullah nilainya merosot tajam.
Kalau saja sosok kejayaan masa lalu masih jelas tampak di Barus, sekarang tabir gelap tadi tak perlu begitu lama menggantung. Realitasnya, Barus sekarang yang tercakup dalam Kabupaten Tapanuli Tengah dalam penampakannya di permukaan begitu bersahaja dan terisolasi. Kecuali makam-makam Islam dari sekitar abad ke-14, kawasan ini hampir tak menyisakan artefak dari sebuah bandar internasional masa kuno. Inilah dasar keraguan kedua. Begitupun, di tengah kesimpangsiuran informasi ihwal Barus yang menjadi sumber kamper terbaik, ada satu hal yang akhirnya disepakati banyak ahli. Yaitu kata ‘kamper’ berasal dari rumpun bahasa Austronesia. Jadi kemungkinan besar asal komoditas ini adalah kawasan di Nusantara.
Sejak abad ke-16 mulai lebih terang sebenarnya bahwa Barus sekaranglah sumber kamper terbaik yang diapresiasi dunia itu. Tapi kawasan ini sendiri ternyata hanya bandar penampung saja, bukan penghasil.
Tom Pires, seorang musafir Portugis, di awal abad ke-16 mendeskripsikan Barus lebih jelas. Ia menyebut negeri ini sangat kaya, kemana pedagang India dan Arab datang langsung untuk mencari damar (kamper dan kemenyan). Barus yang saat itu berhungan dekat dengan Minangkabau, menurut dia, dinamakan juga Panchur atau Pansur. “Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatra namanya Baros (Baruus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” tulis dia.[3]
Barus, lanjut Tom Pires, telah lama berdagang dengan negeri Pakpak. Hasil bumi berupa kamper dan kemenyan yang dijual di Barus, lanjut dia, didatangkan dari pedalaman. Yang dimaksud dengan pedalaman tentu saja tanah Pakpak yang kala itu setidaknya mencakup Manduamas, Pakkat, dan Parlilitan.
Catatan yang lebih pasti ihwal Barus baru ada sejak Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) menempatkan perwakilannya di sana. Dalam laporan VOC di abad ke-17 disebut pohon kapur barus dan kemenyan terdapat di daerah perbukitan di antara tanah pantai yang datar dan dataran tinggi Toba. “Di daerah terjal ini damar dipungut oleh berbagai kelompok Batak dan diangkut oleh mereka ke tepi laut, terkadang melalui beberapa daerah lain dulu. Di pantai damar dipertukarkan dengan bahan keperluan mereka seperti kain, besi, dan garam,” demikian catatan VOC.[4] Di sini yang dimaksud VOC dengan Batak tentu tidak hanya Toba.
Sekitar abad ke-17 itu, menurut catatan VOC tadi, yang menjadi penduduk Barus adalah orang Melayu, Batak, dan etnik Nusantara lain termasuk Aceh. Orang Melayu dimaksud banyak dari Minangkabau dan pelabuhan-pelabuhan yang lebih selatan. Sedangkan orang Batak yang disebut adalah mereka yang sudah merantau ke pantai dan yang sudah kawin-mawin dengan orang setempat. Masih menurut catatan tadi, saat VOC hendak menjalin hubungan dengan penguasa lokal tahun 1668 barulah mereka tahu bahwa Barus diperintah oleh dua raja yakni Raja di Hulu (campuran Batak-Melayu) dan Raja di Hilir (campuran Melayu dari Terusan, Sumatera Barat). Raja di Hulu menjalin hubungan khusus dengan masyarakat Pakpak yang memungut kamper di Barus barat laut dan pedalamannya. Sedangkan Raja di Hilir berpengaruh besar terhadap orang Batak di Pasaribu dan Silindung yang memungut kemenyan di perbukitan di Barus timur laut serta di pedalaman Sorkam dan Korlang.
Sampai abad ke-19 Barus masih menjadi penyalur utama kamper dari tanah Dairi. Para pedagang di Barus membeli komoditas ini dari para petani dan pengumpul yang datang dari pedalaman. Sungai dan jalan setapak menjadi jalur para pengumpul.
Dalam skala yang lebih kecil Singkil juga penampung kapurbarus dan hasil bumi Dairi lainnya. Di wilayah Singkil, pangkalan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di tanah Pakpak menjadi tempat transaksi. Para petani dari pedalaman datang ke sana membawa kamper, kemenyan dan yang lain untuk ditukar dengan garam, kain, tembakau Cina, opium, dan aneka barang dari besi. Pada abad ke-19 terdapat sejumlah pangkalan di Boven Singkel (Singkil Atas) yakni Sinundang, Kumbi, dan Puge di Batang Sinundang; Traju, Pulau Melang, dan Bruntungan Kambing di Batang Sulambi; Panggalan dan Silak di Batang Kumbi, Panuntungan dan Belegen di Batang Belegen, Angkat dan Sarah di Batang Batu-batu, serta Biski di Batang Biski.[5]
Selain ke Barus dan Singkil kamper dan kemenyan dari tanah Pakpak juga masuk ke pelabuhan pantai barat lainnya yakni Tapian Na Uli (Sibolga), Natal dan Air Bangis. Kedua komoditas ini menjadi barang ekspor utama bandar-bandar tersebut hingga pertengahan abad ke-19. Khusus kemenyan sumbernya ada beberapa selain tanah Pakpak. Tanah Toba salah satunya.
Jelaslah, tanah Dairi yang menjadi sumber kamper andalan bandar-bandar pantai barat Sumatera sejak lama. Juga sebagai kemenyan terbaik. Tidak heran kalau di masa Hindia Belanda kawasan di pedalaman Barus dan Singkil ini dinamai Kamfergebied (sentra kamper) dan Benzoegebiet (sentra kemenyan).
****
Prasasti Lobu Tua
Ihwal Barus sekarang sebagai pusat perdagangan masa lalu kian terang setelah sebuah tiang bertulis ditemukan di Lobu Tua, dekat Barus, di masa Kontrolir GJJ Deutz tahun 1873. Prasasti yang sekarang berada di Museum Nasional, Jakarta, tersebut berhasil dibaca oleh gurubesar arkeologi di Madras, India, KA Nilakanta Sastri, tahun 1932. Bertahun 1010 Saka (tahun masehi: Februari-Maret 1088), tiang itu bertuliskan—dalam bahasa Pallawa—ikhtiar perikatan sebuah serikat dagang (merchant guild) Tamil. Menamakan diri Perkumpulan Lima Ratus karena jumlahnya 500 orang, mereka berkiprah di Barus selama abad ke-11.[6]
Bukti kebandaran Barus dikuatkan lagi oleh hasil penggalian arkelologis oleh sebuah tim Indonesia-Perancis di Lobu Tua tahun 1995-1996. Dalam eskavasi di desa yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Barus sekarang ditemukan peninggalan arkeologi bermutu tinggi termasuk kaca dan keramik dari Timur Dekat serta banyak pecahan keramik dari Cina. Serpihan ini berasal dari abad ke-8 dan ke-9.[7]
Dari paparan tadi jelas bahwa tanah Dairi atau tanah Papak-lah sumber kamper yang telah mengharumkan nama Barus sejak masa pra-sejarah. Sebenarnya tidak semua daerah di Dairi yang menghasilkan kamper kala itu. Cuma daerah tertentu saja. Terutama Kelasan dan Manduamas. Kelasan, oleh orang India disebut Kalasapura atau Kalasha. Penduduknya menamai kamper haboruan. Sedangkan orang Pakpak umumnya (termasuk yang di Manduamas) menyebutnya keberuen. Tanda kerapatan hubungan masyarakat Dairi dengan keberuen sangat jelas: di tanah Pakpak ada sejumlah cerita rakyat (folklor) yang berlatarkan tanaman hutan ini. Di antaranya kisah Pak-Edag-Pak-Edog dan cerita Simbuyak-mbuyak.
Bahwa kamper yang diekspor Barus sejak zaman klasik itu bersumber di tanah Dairi atau tanah Pakpak, sayangnya hingga sekarang tak banyak yang tahu. Anggapan umum kamper itu ya hasil bumi Barus; toh sebutan lainnya juga ‘kapurbarus’. Tanah Pakpak sama sekali tidak dipersangkutkan. Orang Medan dari zaman dulu punya sebutan untuk ironi seperti ini: lembu punya susu, Benggali punya nama. Di Medan susu sapi segar dinamai ‘susu Benggali’ sebab orang Benggali-lah yang berkeliling menjajakannya. Kasus salah kaprah susu Benggali ini sama dengan kasus ‘jeruk Medan’. Jeruk asalnya dari tanah Karo, bukan Medan. Sebab itu sebutan yang tepat sebenarnya adalah ‘jeruk Karo’ atau paling tidak ‘jeruk Berastagi’.
****
Kapurbarus dalam Hikayat Pakpak
Keberuen merupakan sebutan umum orang Pakpak untuk kapurbarus. Adapun proses mengambil damar ini mereka sebut merteddung atau martodung. Masyarakat lama Dairi berikatan batin erat dengan hasil hutan yang satu ini.
Bukan sembarang komoditas keberuen ini bagi mereka. Sebab itu proses pencariannya pun pakai aturan main atau syarat baku. Tidak setiap pohon kapurbarus menghasilkan kapur. Tak jarang rombongan pencari yang sampai berbulan-bulan masuk hutan akhirnya pulang berhampa tangan. Jadi peruntungan juga menentukan. Agar pencarian lebih efisien rombongan biasanya membawa serta pawang. Sang pawanglah yang memimpin prosesi nanti dan memandu para pencari. Jadi selain kapurbarus, sejak lama juga tanah Dairi dikenal sebagai penghasil pawang kapurbarus.
Kerekatan Dairi dengan kamper melebihi wilayah manapun di Republik ini. Bukti kerekatan ini adalah adanya koleksi cerita orang Pakpak yang berkait dengan kapurbarus. Misalnya hikayat pasangan Pak-Edag-Pak-Edog dan Nan Tartar-Nan Tortor[8] serta hikayat Simbuyak-mbuyak[9].
Hikayat pertama ihwal cekcok suami-isteri. Suatu hari, merasa suaminya ingkar janji Nan Tartar-Nan \Tortor pun minggat dari rumah. Sang suami, Pak-Edag-Pak-Edog, pusing tujuh keliling setelah isterinya raib. Suatu malam ia bermimpi bahwa isterinya bersembunyi di dalam sebatang pohon kapurbarus. Segera ia bertindak. Diambilnya tongkat dan diketoknya setiap pohon kapurbarus yang ia temui di hutan. Benar, Nan Tartar-Nan Tortor ada di dalam pohon. Masalahnya perempuan itu selalu berpindah ke pohon kamper lain saban didekati. Pak-Edag-Pak-Edog tak kenal lelah. Tongkat terus ia pukulkan. Alhasil bunyi ketokan tongkatnya pun menggema di rimba raya: pakpak edag-edog... pakpak edag-edog... pakpak edag-edog... Pendek cerita, hati isterinya kemudian melunak sehingga mereka pulang happy ending. Yang mau dikatakan hikayat ini: sejak bunyi menggema di hutan itulah sebutan ‘orang Pakpak’ diberikan kepada masyarakat yang satu ini yang memang sejak berabad-abad terkenal sebagai pencari ulung kapurbarus.
****
Simbuyak-mbuyak
Hikayat kedua tentang tujuh lelaki bersaudara seibu-seayah dari negeri Urang Julu. Mereka adalah (berturut mulai dari yang sulung) Simbuyak-mbuyak, Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger, dan Anakampun. Sejak lahir Simbuyak-mbuyak tak bisa berdiri karena ruas tulang belakangnya kelewat lemah. Kendati begitu, sesuai ajaran orangtuanya, ia tetap disayang adik-adiknya. Setelah beranjak dewasa, keenam adiknya memutuskan pergi ke rantau untuk mencari kamper yang harganya saat itu setara emas. Simbuyak-mbuyak mohon ikut dan akhirnya disetujui termasuk oleh ibu-ayahnya.
Perjalanan mencari kamper sungguh melelahkan, ternyata. Harus menembus hutan turun naik gunung mereka. Apalagi keenam adik juga harus bergantian menggendong si sulung. Akhirnya tiba juga mereka di tempat pepohonan kapurbarus tumbuh. Sesuai arahan sang kakak mereka membuat gubuk persis di pertengahan lereng Gunung Sijagar. Seia-sekata, tak boleh cekcok, memang itulah etos para pencari kamper. Dan dari sini jugalah asal-usul maksim sosial terkenal di Tanah Pakpak: ‘Sada kata dok perteddung’ (Seia-sekata seperti ujaran pencari kapurbarus).
Ketujuh bersaudara pun mematuhinya. Fisiknya yang lemah membuat Simbuyak-mbuyak di gubuk saja sendirian saat adik-adiknya pergi mencari kamper. Kerjanya seharian memintal tali. Kamper yang didapat enam bersaudara sedikit saja dan itu pun, di gubuk, kerap dilahap habis oleh si sulung. Begitu saban hari. Lama-lama kedongkolan empat dari enam bersaudara yang sudah letih itu membuncah, tapi Tinambunen dan Tumangger selalu berusaha meredakan suasana tegang. Simbuyak-mbuyak sadar dirinya sedang disoal tapi ia berlagak tak tahu. Terus saja ia memintal tali tanpa mau mengatakan untuk apa.
Tak ada yang tahu ternyata Simbuyak-mbuyak bukan manusia biasa. Malam, saat keenam adiknya sudah lelap ia sering menjelajah hutan. Ia bisa menandai mana pohon yang berkamper dan mana yang tidak. Bahkan tahu berapa kandungan pohon yang berisi kamper tersebut.
Kekecewaan keempat adik Simbuyak-mbuyak akhirnya memuncak. Mereka memutuskan pulang dan meninggalkan abang sulung di hutan. Suatu hari mereka pamit. Pulang dulu mengambil bekal, itu alasannya. Merasa kasihan, Tinambunen dan Tumangger mengatakan mau tinggal untuk menemani Simbuyak-mbuyak. Ternyata Simbuyak-mbuyak mengatakan lebih suka ditinggal sendiri. Cuma satu pintanya: tolong dijemput kalau pohon durian mereka di kampung sudah berbuah. Tak sembarang pohon durian mereka itu: cuma satu dan buahnya tunggal pula. Tapi sungguh istimewa buah ini: kelewat besar dan rasanya lezat nian. Semuanya mengatakan siap menjemput.
Sesampai di kampung kepada orangtua keempat bersaudara tadi menceritakan kesialan mereka di hutan. Mereka lantas mempersalahkan si abang sulung. Setelah berkisah mereka menguatarakan pinta ke orangtua yaitu menggelar pesta dulu sebelum mereka kembali ke hutan nanti. Sajiannya buah durian mereka serta daging ternak. Pinta diluluskan.
Khawatir terlambat Tinambunen dan Tumangger bergegas menjemput Simbuyak-mbuyak. Saat kedua bersaudara ini masih menapak menuju Gunung Sijagar ternyata pesta di kediaman mereka di Urang Julu sudah mulai. Lewat kemampuan istimewanya Simbuyak-mbuyak tahu itu. Masygul dia. Lantas ia yang sejak kepergian keenam adiknya telah menjelma menjadi pemuda ganteng nan gagah mulai merentangkan tali yang selama ini dipintalnya. Setiap pohon berisi kapurbarus ia pertautkan dengan tali itu. Ia berdoa agar pohon paling besar dan tinggi serta penuh berisi kapurbarus tumbang. Doanya terkabul. Pohon itu terhempas. Juga, batang itu terpotong-potong rapi. Berdoa lagi dia: kayu berpotong itu terbelah dua.
Sewaktu Tinambunen dan Tumangger tiba mereka tak menemukan abangnya. Bertambah heran keduanya karena tali-temali berseliweran mulai dari gubuk hingga ke hutan. Tatapan mereka kemudian terbentur pada sebuah pohon besar-tinggi yang rebah di depan gubuk. Saat mendekat mereka melihat sang abang terbaring di belahan kayu itu. Sontak disergap rasa kaget dan haru keduanya. Simbuyak-mbuyak mereka bujuk agar keluar dari sana. Tak berhasil. Simbuyak-buyak mengungkapkan isi hati kepada kedua adik yang sungguh menyayangi dirinya. Ia bilang bahwa seandainya saja ikut dalam pesta buah durian dan daging ternak gemuk di kampung ia akan memohon ke sang pencipta agar dirinya dijelmakan sebagai manusia sehat. Tapi, semuanya sudah terlambat, ucap dia. Ia lantas memberitahu bahwa semua pohon yang ia ikat itu berisi kapur barus. Ia persilakan mereka mengambilnya nanti sebagai pengganti kapurbarus yang telah ia makan selama ini. Setelah memberi pelbagai petunjuk dan bertitip pesan kepada kedua orangtua dan sanak saudara ia pun mohon diri. Suara maha guruh terdengar seketika. Kayu terbelah bersatu menelan tubuh Simbuyak-buyak. Kayu itu lalu meluncur maha kencang dari lereng Gunung Sijagar. Ke samudra arahnya.
Tinambunen dan Tumangger sedih bukan kepalang. Namun duka mereka segera susut setelah melihat kapurbarus berlimpah yang ditinggalkan Simbuyak-buyak. Dengan bawaan yang sarat mereka pun pulang. Di rumah, kepada keempat saudaranya bawan itu mereka bagikan juga. Akhirnya keluarga mereka menjadi makmur. Hikayat pun berujung.
***
Negeri Tujuan Kaum Migran
Penduduk asli tanah Dairi adalah orang Pakpak. Sebab itu Dairi acap juga disebut tanah Pakpak (Tanoh Pakpak). Seiring waktu kaum migran pun bermunculan. Tanah yang luas dan subur menjadi alasan utama bagi mereka untuk ‘mendairi’. Alhasil setelah bergenarasi-generasi kawasan ini telah menjadi melting pot. Berikut ini potret beberapa etnik atau puak yang telah lama beranak-pinak di Dairi. Pakpak sendiri tentu perlu dikisahkan sebagai awalnya.
Pakpak
Tanah Pakpak terdiri dari lima suak atau kelompok berdasarkan kedekatan wilayah, sosial dan ekonomi. Suak itu adalah: Simsim, di kawasan Salak, Kerajaan, Sitellu Tali Urang Julu, Sitellu Tali Urang Jehe; Keppas, di kitaran Sitellu Nempu, Siempat Nempu, Silima Pungga-pungga, Lae Luhung (Lae Mbereng) dan Perbuluhen; Pegagan dan Karo Kampung, di sekitar Pegagan Jehe, Silalahi, Paropo, Tongging (Sitolu Huta) dan Tanah Pinem; Boang, di lingkup Simpang Kanan, Simpang Kiri, Lipat Kajang, dan Singkil; dan Kelasan, meliputi wilayah Sienem Koden, Manduamas, dan Barus.
Orang Pakpak juga bermarga. Di lingkup Suak Simsim terdapat sejumlah marga antara lain Banurea, Beringin, Berutu, Boangmanalu, Cibero, Kebeaken, Lembeng, Manik, Padang, Sinamo, Sitakar, Sitendang, dan Solin. Di Suak Keppas: Angkat, Bako, Berampu, Bintang, Capah, Gajah Manik, Kudadiri, Maha, Pasi, Sambo, Saraan, dan Ujung. Di Suak Pegagan: Cupak atau Kecupak, Kaloko, Lingga, Manik, Matanari, dan Simaibang. Di Suak Boang: Bancin, Berutu, Lembeng, dan Pohan. Sedangkan di Suak Kelasan: Anakampun, Berasa, Gajah, Kesogihen, Maharaja, Meka, Mungkur, Sikettang, Tinambunen, Tumangger, dan Turuten.
Kata ‘pakpak’ dalam bahasa Pakpak bermakna tinggi. Bisa jadi karena berdiam di dataran tinggi atau pegunungan maka masyarakatnya dirujuk sebagai orang Pakpak. Sejauh ini selain hasil telusuran berdasar asal-usul kata (etimologi) ada juga tafsir ‘pakpak’ versi lain. Ada yang mengatakan kata ini berasal dari ‘wakwak’, sebutan untuk kawasan ini oleh warga negeri Abunawas (Irak sekarang) di zaman baheula.
Ada pula yang menyebut ‘pakpak’ berasal dari nama orang. Alkisah, tiga pemuda bersahabat karib bertolak dari Singkil. Nama mereka adalah si Gayo, si Karo, dan si Pakpak. Pemuda Gayo melangkah mengikuti sungai Kali Alas. Ia tiba di tanah Gayo. Melanjut ke Kutacane dia dan mentap selamanya. Pemuda Karo mengikuti Lae Ulun dan tiba di tanah Karo. Di sana ia tinggal permanen. Adapun pemuda Pakpak, ia mengikuti Lae Renun dan sampai di Pegagan Hilir. Di sana ia bergabung dengan penduduk asli dan membentuk perkampungan. Seperti kedua sobatnya ia pun menjadi migran yang berdiam menetap. Namanya kemudian diabadikan untuk seluruh kawasan.[10]
Sudah ada tiga tafsir tentang muasal kata ‘pakpak’. Lantas orang Pakpak sendiri dari mana berasal? Seperti halnya asal-usul seluruh etnik atau sub-etnik lain di Republik ini, yang satu ini pun belum jelas betul. Aneka macam versinya. Secara umum, sejak zaman Belanda, oleh para etnolog orang Pakpak digolongkan ke dalam etnik Batak. Jadi sama seperti orang Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Angkola. Adanya sejumlah unsur kedekatan atau kesamaan—misalnya dalam struktur sosial, sistem budaya, dan bahasa—puak ini satu sama lain menjadi dasar penggolongan. Uli Kozok[11], misalnya, menyatakan keenam puak ini memiliki bahasa yang satu sama lain banyak kesamaannya. Merujuk para ahli bahasa ia menyebut bahasa Angkola, Mandailing, dan Toba membentuk rumpun selatan; sedangkan bahasa Karo dan Pakpak-Dairi termasuk rumpun utara. Ihwal Bahasa Simalungun ada dua pendapat. Berdiri di antara rumpun utara dan selatan, begitu satu pendapat. Merupakan cabang dari rumpun selatan yang kemudian terpisah sebelum bahasa Toba dan bahasa Angkola-Mandailing terbentuk, kata pendapat lain.[12]
Belakangan ini semakin nyaring terdengar pernyataan bahwa Pakpak bukan Batak, terlepas dari sejumlah unsur kesamaan tadi. Menurut pemegang pendapat ini (umumnya mereka orang Pakpak) sebagai etnik Pakpak lebih tua dari Toba yang selama ini mengkleim sebagai leluhur segenap puak Batak. Diskleim senada tadinya cuma dari Mandailing. Belakangan orang Karo dan Simalungun pun kian banyak menyangkal diri Batak. Lama-lama bisa Toba belaka yang menyebut diri Batak. Tentu para etnologlah yang punya otoritas untuk menimbang kebenaran kleim atau diskleim ini.
Mereka yang menyatakan Pakpak lebih tua dari Toba merujuk pada folklor lokal dan benda-benda budaya dari zaman Hindu (di antaranya mejan—patung orang menunggang gajah atau harimau, terbuat dari batu) yang sampai kini bisa ditemukan di tanah Pakpak untuk menguatkan argumennya.
Kendati tak tak memiliki mitologi lengkap yang mencakup ihwal penciptaan dunia dan manusia pertama, orang Pakpak mempunyai folklor tentang lintasan peradabannya. Menurut folklor ini Pakpak mengenal lima zaman yakni Similangilang, Sintuara, Sihaji, Hindu, dan Pemimpin. Keterangannya berikut ini[13].
Zaman Similangilang. Pada masa ini orang belum tinggal menetap atau masih nomaden. Berburu binatang merupakan pekerjaan utama mereka.
Zaman Sintuara. Mereka sudah mulai bermukim tapi kerap berpindah. Kalau ada anggota kelompok yang meninggal mereka akan berpindah sebab kematian dianggap kesialan yang harus dihindari.
Zaman Sihaji. Seperti masa sekarang, di masa ini kelompok sudah menetap secara permanen di satu tempat. Mereka sudah mulai berdagang tapi belum menggunakan mata uang. Jadi masih berbarter. Mitra dagang mereka termasuk orang asing (Portugis, Mesir, dan India). Berbagai barang dari luar negeri sudah masuk di antaranya koden loyang (periuk), kalakati (alat pengupas pinang), sulapah (tempat sirih), pinggan pasu (piring pinggan), gabus (ikat pinggang), dan borgot.
Zaman Hindu. Ini sezaman dengan kerajaan Sriwijaya. Berarti abad ke-6 sampai ke-12.
Zaman Pemimpin. Bermula sejak Islam merebak di tanah Pakpak.
Kalau folklor ini mengandung kebenaran faktual memang benar orang Pakpak lebih tua dari orang Toba. Jalan pikirannya, bandingkanlah folklor kedua puak. Menurut tambo (tarombo) orang Toba, manusia Batak pertama adalah Si Raja Batak. Segenap orang Batak sekarang adalah keturunannya. Dari Si Raja Batak hingga angkatan kanak-kanak Toba sekarang paling ada belasan generasi. Satu generasi katakanlah 70 tahun. Jadi masa sejak Si Raja Batak hingga masa sekarang baru paling 1.500 tahun (asumsinya orang Toba telah 20 generasi lebih). Berarti baru setara era Hindu menurut folklor Pakpak tadi. Masih jauh dari zaman Similangilang. Begitulah kalau kita membandingkan folklor. Masalahnya, folklor tidak bisa dijadikan penakar tahun. Namanya juga cerita rakyat atau sahibul hikayat: berbiaknya dari mulut ke mulut.
Jejak kebudayaan Hindu sampai sekarang masih tampak jelas di tanah Pakpak. Mejan salah satunya. Lainnya adalah benda yang tadi disebut dari zaman Sihaji: koden loyang, kalakati, sulapah, pinggan pasu, gabus, dan borgot. Jejak ini menjadi pertanda bahwa sebagai etnik Pakpak memang sudah tua.
Tanah Pakpak memang sejak lama berada dalam medan pengaruh pelbagai kebudayaan besar. Kedekatannya dengan Aceh dan Barus menjadi penyebabnya. Setelah Hindu, kebudayaan Islam dan Kristen merembes deras ke kawasan ini.
Islam sudah lama hadir di tanah Pakpak. Kemungkin besar imbas dari kebertetanggaannya dengan Aceh di utara dan Barus di selatan. Orang Pakpak yang pertama mendalami Islam secara intens adalah Sjech Abdurrauf al-Singkili. Dia pernah belajar agama di Pasai (Aceh) dan tanah Arab. Namun pengislaman secara serius dan sistematis barulah oleh Tengku Telaga Mekar dari Gayo. Pengikutnya menjadi unsur pasukan Slimin yang berjuang melawan Belanda kelak. Gelombang pengislaman berikutnya mengalun di masa Guru Gindo. Sekitar tahun 1926 sang guru bertolak dari kampungnya di Sumatera Barat untuk mengembangkan siar Islam. Lewat Singkil dan Runding akhirnya ia tiba Sidikalang. Di ibukota ini sejumlah pertaki berhasil ia Islam-kan termasuk dari marga Bintang dan Ujung.[14] Dengan begitu Guru Gindo berlomba dengan zending yang juga berhasil mengkristenkan beberapa pertaki.
****
Toba
Migrasi orang Toba (sebutan orang Pakpak: Tebba) ke tanah Dairi sudah sejak lama dan berlangsung beberapa gelombang. Mereka yang pertama berpindah kemungkinan besar adalah penduduk kawasan yang berbatasan atau dekat dengan Dairi. Dalam hal ini mereka yang bermukim di kedua pesisir yang diperantarai jembatan Tano Ponggol, Pangururan, P. Samosir sekarang (penguasa Belanda mengeruk tanah di bawah jembatan ini untuk menjadikan Samosir pulau di Tengah Danau Toba), serta mereka yang berdiam di kitaran Humbang Hasundutan sekarang persisnya di selatan garis imajiner Parlilitan-Pakkat. Mereka yang berasal dari pesisir barat Samosir bisa berjalan kaki lewat Pangururan dan Tele di seberang Gunung Pusuk Buhit kalau mau ke tanah Dairi. Bisa juga naik sampan (solu) dari Samosir sebelum melanjut lewat jalur darat. Sedangkan mereka yang datang dari arah Balige-Muara-Bakara bisa berjalan kaki melewati daerah Humbang. Lintasan alternatif yang lebih mudah ada bagi mereka yakni naik solu ke Sagala atau Pangururan lalu menapaki jalur darat.
Di masa rintisan migrasi, macam-macam motif orang Toba yang melawat dan kemudian menetap di tanah Pakpak. Mulai dari mengembara belaka untuk mengenal lebih dekat dunia, mencari penghidupan yang baik, berdagang, hingga menimba ilmu (sebagai catatan: Barus yang bertetangga dengan Dairi sejak lama telah menjadi salah satu kiblat bagi orang Toba yang mendalami ilmu perdukunan atau hadatuon).
Kelompok marga Silalahi termasuk orang Toba yang telah turun-temurun tinggal di tanah Dairi. Berasal dari Samosir utara, nenek mereka melintasi bagian Danau Toba yang paling luas dan paling dalam. Mereka lantas beroleh tanah dari orang Pakpak pemilik hak ulayat. Marga mereka pun dibadikan sebagai nama untuik ranah pemberian itu (Kecamatan Silalahisabungan, Dairi sekarang) berikut bagian danau yang paling luas dan dalam tadi (Tao Silalahi).
Selain Silalahi, marga lain yang sudah bergenerasi-generasi menetap di tanah Pakpak termasuk Ompusunggu (bagian dari Aritonang, berasal dari Muara), Limbong, Sagala, Malau, dan Sigalingging. Mereka mendapatkan tanah dengan pelbagai cara. Ada yang awalnya putri mereka dipersunting penguasa lokal (pertaki). Setelah besanan mereka lantas diundang untuk mendirikan kampung serta diberi pertapakan. Ini misalnya dialami marga Ompusunggu yang menjadi besan Tuan Kinalang alias Raja Pernakanmatah Ujung. Tanah pemberian untuk mereka terletak di antara Hutaraja dan Hutaimbaru.[15]
Ada pula yang bermula dari hubungan dagang. Marga Limbong misalnya ada yang awalnya datang dari Samosir dengan mambawa ulos sebagai dagangan. Ia kemudian dipermantukan pertaki dan diberi rading tanoh (tanah pemberian orangtua kepada putrinya yang menikah).
Kisah sekelompok marga Sigalingging lain lagi. Semula seorang kakek moyang mereka datang ke Dairi untuk belajar membuat koden (periuk). Setelah beroleh ilmu ia pulang kampung dan di sana ia bergiat membuat periuk tanah. Hasil kriya tersebut ia bawa ke Dairi untuk dijual. Bisnisnya ternyata berhasil dan ia kemudian dipermantukan marga Ujung yang menjadi penguasa lokal. Sebagai menantu ia kemudian diberi rading tanoh. Turunannya kemudian beranak pinak di sana sampai sekarang.
Marga Sidabutar ada juga yang mendapatkan tanah dari raja marga Angkat dengan cara yang kurang lebih sama.[16] Diberi tanah oleh penguasa setempat dan turunannya lantas beranak pinak. Itulah proses mendairi yang umum ditempuh kaum migran Toba. Perlu diingat di zaman rintisan itu penduduk masih sedikit sementara tanah di Dairi masih maha luas. Sesuai hukum ekonomi paradoks yang terjadi: sesuatu yang berlimpah nilainya kecil saja kendati manfaatnya sangat besar. Contoh: udara dan air. Tanah di Dairi pun kala itu sama. Pada sisi lain para penguasa lokal (pertaki) secara alami bersaing kekuasaan atau berebut pengaruh satu sama lain. Agar kedudukan kokoh maka basis dukungan harus diperbesar. Orang luar merupakan sumber dukungan tambahan yang bisa diharapkan. Agar orang luar ini sudi bergabung harus ada kompensasinya. Tanah peruntukan adalah kompensasi yang paling menarik bagi mereka setelah beru (putri) keturunan sang penguasa. Adapun putri atau keponakan perempuan dari sang pertaki tentulah tak banyak jumlahnya, karena itu tanahlah kompensasi yang paling tersedia.
Untuk mendapatkan tanah di masa itu proses yang dijalani kaum migran sama sekali tak rumit atau berbelit. Mudah dimengerti karena hubungan mereka simbiosis mutualistis (saling menguntungkan: pertaki perlu basis dukungan sementara kaum migran perlu tanah).
Abner Togatorop memberi sebuah gambaran. Waktu masih berusia sekitar tiga tahun (ia lahir tahun 1926) kakeknya berniat meminta tanah kepada Pertaki Batu Empat. Syarat lalu disiapkan sesuai adat sulang silima. Syarat itu berupa satu tumba (2 liter) beras, sebutir telor yang ditaruh di tengah beras tadi, seekor ayam jantan, serta uang seringgit. Saat menghadap seserahan disampaikan dan permintaan diutarakan. Pertaki saat itu juga meluluskan. Ia menunjuk begitu saja tanah untuk keluarga Togatorop[17].
Setelah beroleh tanah, lazimnya yang dilakukan oleh kaum migran Toba di tanah Pakpak adalah mendirikan kampung sendiri (mamungka huta). Untuk itu keluarga dan handai-tolan di kampung asal diajak serta bergabung. Begitulah asal-usul huta, lumban, atau sosor yang ada di Diairi sekarang ini. Satu hal lagi yang perlu dicatat, masing-masing kelompok migran Toba ini memiliki destinasi favorit. Sebab itu sebaran orang dari Humbang, Habinsaran, Samosir, biasanya berbeda satu sama lain.
Migrasi yang dipaparkan barusan bisa disebut bersifat alami. Artinya kedekatan jarak yang kemudian merangsang interaksi lebih merupakan pemicunya. Gelombang migrasi bercorak lain selanjutnya mengalun di awal abad ke-20.
****
Belanda memutuskan untuk memerangi Si Singamangaraja XII yang berdiam di Paya Raja, Kelasen, Dairi, sejak tahun 1883. Maka pada 19004-1905 mereka melangsungkan dua ekspedisi militer di Dairi. Misi ternyata gagal sehingga November 1905 Letnan L. Van Vuuren ditempatkan di Sidikalang sebagai pejabat sipil merangkap komandan pasukan. Benteng Sidikalang dan sejumlah pondokan pasukan segera dibangun.
Untuk membangun fasilitas militer Belanda membutuhkan para pekerja termasuk tukang, kuli bangunan, dan portir. Di masa itu tukang terampil lulusan sekolah belum ada di Dairi. Belanda akhirnya memutuskan untuk menggunakan tenaga kerja yang tersedia di Silindung. Masalah timbul karena orang-orang dari Silindung—asal mereka sebenarnya dari mana-mana termasuk dari Toba, Humbang, dan Samosir—enggan berangkat ke Dairi karena tahu Si Singamangaraja XII yang akan diperangi Belanda di sana. Belanda meluluhkan hati mereka dengan imbalan besar. Ratusan orang pun siap berangkat.
Setiba di Dairi para pekerja dari Silindung ini banyak yang terkesima oleh tanah subur dan kosong yang terhampar di mana-mana. Ketika kembali ke kampung saat cuti atau ikatan kerjanya telah selesai mereka berkisah kepada handai tolan tentang betapa menjanjikannya masa depan di tanah Pakpak. Tergiur, para pendengar kisah pun memutuskan untuk turut pindah ke Dairi, mendairi. Migrasi besar pun terjadilah.
Setelah orang Toba kian banyak di Dairi, terutama di Sidikalang, penginjil termashyur asal Jerman, Nommensen, kemudian meminta zending masuk ke Dairi. Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pun berdiri di Sidikalang tahun 1908. Tak hanya orang Toba yang belum Kristen yang dirangkul oleh zending kala itu tapi juga orang Pakpak yang sebagian besar masih menganut agama suku. Hasilnya, tahun 1909, Jaekuten Keppas Raja Asah Ujung dibaptis menjadi Kristen. Juga saudaranya: Raja Alang, Raja Kundeng, dan Raja Jonang. Kalau penguasa sudah dirangkul otomatis pengikutnya akan lebih mudah diajak serta. Dan memang begitulah yang terjadi. [18]
Migrasi orang Toba terus berlanjut di masa kemerdekaan. Mengisi posisi pegawai birokrasi, guru, dan tentara itu tujuan utamanya. Demikian juga di masa gerilya dan pasca penyerahan kedaulatan tahun 1949. Pemasukan kembali Dairi ke Kabupaten Tapanuli Utara yang beribukotakan Tarutung menjadi perangsang tambahan.
Migrasi orang Toba berpuncak di masa Orde Baru. Dairi membangun. Orang-orang berpendidikan datang mengisi pelbagai lowongan birokrasi kabupaten, guru, dan tenaga kesehatan hingga ke desa-desa. Mereka yang tak berpendidikan juga tak mau kalah. Mereka berkiprah di sektor informal. Alhasil, setelah migrasi yang berlangsung lama Dairi pun menjadi salah satu daerah rantau utama orang Toba sampai kini. Dan secara statistik, jumlah mereka kini sudah jauh melampaui orang Pakpak.
****
Karo
Tanah Karo berbatasan langsung dengan Tanah Dairi. Laubalang, Juhar, dan Tongging antara lain menjadi titik di dekat garis batas kedua wilayah. Kebertetanggaan langsung ini dengan sendirinya membuat kedua wilayah bersinggungan secara kultur. Bahasa yang mirip menjadi salah satu pertandanya.
Ada sebuah wilayah di perbatasan yang oleh penguasa Belanda dulu disebut sebagai Onderdistrik van Karo Kampung. Kawasan ini meliputi lima kenegerian yakni : Lingga (Tigalingga), Tanah Pinem, Pegagan Hilir, Juhar Kidupen Manik, dan Lau Juhar. Dinamai Karo Kampung karena kulturnya memang Karo. Kemungkinan besar kawasan ini merupakan wilayah Karo yang masuk wilayah Dairi akibat demarkasi oleh Belanda. Pinem menjadi salah satu marga tanah di Karo Kampung. Tanah Pinem, menurut tulisan tokoh masyarakat Karo Dairi, alm. Mandur Pinem[19], merupakan asal segenap marga Pinem. Jadi bukan tanah Karo, seperti anggapan umum. Hal ini, masih menurut dia, telah diakui dalam sebuah seminar adat di tanah Karo sekitar tahun 1958.
Selama ini hubungan orang Karo dengan Pakpak boleh dibilang berlangsung mulus dan akrab. Orang Karo tak agresif dalam mendapatkan tanah sehingga ketegangan dengan pribumi Pakpak jarang terjadi. Selain itu sejumlah marga di Dairi dan Karo menjalin perikatan khusus. Misalnya Kudadiri dengan Ginting Suka, Sinuraya dengan Angkat, dan Padang Jambu dengan Pinem. Relasi khususlah yang kemudian memunculkan marga seperti Peranginangin Laksa, Sembiring Maha, Sebayang Solin, dan Karokaro Ujung.
Selain hubungan khusus, ada juga peristiwa tertentu yang telah merekatkan orang Pakpak dengan orang Karo. Misalnya pergolakan PRRI pada paruh kedua 1950-an. Dalam perkembangan lanjutan gerakan ini salah satu tokoh sentralnya, Kolonel Maludin Simbolon berseberangan jalan dengan orang dekatnya, Letkol Djamin Gintings (sewaktu Simbolon menjadi panglima Komando Tentara dan Teritorium-I Sumatera Utara, Gintingslah kepala stafnya). Seperti di daerah lain di Sumatera Utara, di Dairi pun masyarakat terbelah waktu itu: ada yang berpihak ke Simbolon, ada yang ke Gintings. Orang Pakpak yang berpihak ke Djamin Gintings sebagian mengidentifikasikan diri ke orang Karo. Menggunakan marga Karo itulah antara lain yang mereka lakukan. Marga Maha misalnya menjadi Sembiring. Yang memihak Simbolon ada juga seperti itu.[20] Pengidentifikasian diri itu ternyata permanen.
Pertautan Karo-Dairi lainnya dalam bidang pertanian. Karo, boleh dibilang, sejak lama menjadi model bagi Dairi dalam hal pertanian. Sejak bersentuhan dengan teknologi pertanian di masa Hindia Belanda Karo telah menjadi sentra agribisnis utama di Sumatera bahkan di Indonesia. Sejak lama hasil ladang mereka—sayur dan buah-buahan—telah menjadi komoditi yang berpasar di P. Jawa, Singapura, dan negeri lain di kitaran Asia Tenggara.
Di Dairi masyarakat petani yang paling intens mengikuti jejak Karo di bidang pertanian adalah mereka yang bermukim di Karo Kampung (sekarang tiga kecamatan: Tanah Pinem, Tigalingga, dan Gunung Sitember). Wajar: Kedekatan secara geografis dan kultural telah membuat mereka senantiasa rapat. Ketika mekanisasi pertanian meraja di tanah Karo tahun 1960-an misalnya, Karo Kampung yang pertama terimbas di Dairi. Alhasil sampai sekarang kawasan ini masih penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar Dairi dari sektor pertanian.
****
Simalungun
Diperantarai Tao Silalahi, pesisir Silalahi-Paropo (Dairi) yang panjangnya sekitar 30 kilometer berhadapan dengan Tigaras-Haranggaol (Simalungun). Yang membuat wilayah Dairi dan Simalungun ini tak berbatasan langsung hanyalah pengkolan tempat Tongging dan semenanjung Sibaulangit (keduanya masuk Karo) berada.
Kendati berdekatan, relasi Dairi-Simalungun tidak istimewa. Adanya wilayah Karo sebagai bemper atau penyangga kemungkinan besar merupakan penyebabnya. Karo budayanya dominan[21] sehingga meredam pengaruh Simalungun di kawasan itu. Apalagi orang Simalungun sendiri tidak agresif dan cenderung inward-looking.[22] Alhasil tak banyak mereka yang bermigrasi ke negeri seberang, ke Dairi. Hanya karena agresi Belanda tahun 1949-lah mereka mulai masuk ke sana. Begitu pun, selama ini masih lebih banyak orang Dairi yang bermigrasi ke Simalungun daripada sebaliknya. Seribudolok menjadi tujuan utama mereka. [23]
****
Etnik lain
Dairi berpenduduk multi-etnik, terutama Sidikalang. Ibukota ini sendiri sejak dijadikan Belanda basis untuk memerangi Si Singamangaraja XII telah menjadi titik baur berbagai etnis (melting pot). Orang Jawa, Minang, Mandailing-Angkola, dan Cina antara lain unsurnya.
Orang Jawa datang untuk menjadi pegawai baik di pemerintahan, perusahaan swasta, maupun di sektor informal. Orang Minang, seperti biasa, bergiat di bisnis rumah makan. Menjadi tukang mas, ada juga mereka. Kaum perantauan ini membanyak di Dairi setelah tokoh utama mereka, Guru Gindo, bergiat dalam siar Islam. Awalnya kerabat Guru Gindo saja yang datang menyusul dari Sumatera Barat; lama-lama orang dari luar lingkaran mereka juga.
Dibanding etnik pendatang lain orang Cina-lah yang lebih dulu eksis berdagang di tanah Dairi. Bisnis utama mereka adalah menampung dan menyalurkan hasil bumi macam kemenyan, nilam, dan kopi. Sebelum zaman Jepang mereka sudah aktif. Perintis bisnis ini di Sidikalang termasuk ayahanda toke Teseng, Pengki, dan Pinciang. Seperti di kawasan mana pun di negeri ini, di Sidikalang pun orang Cina-lah yang paling dominan menguasai perekonomian lokal. Baru belakangan ini saja dominasi mereka seperti terimbangi, dan itu terutama karena semakin banyaknya generasi muda orang Cina meninggalkan Sidikalang dan membuka bisnis di Siantar, Medan, Jakarta, bahkan luar negeri.
[1] Hutan di Kecamatan Sumbul dan Parbuluan menyumbangkan sebagian besar air sungainya ke Danau Toba, terutama yang berhulu di hutan lindung Lae Pondom. Lihat Jansen H. Sinamo dkk. dalam Dairi—The Hidden Prosperity (terbit tahun 2000)
[2] Lihat Jane Drakard, Sejarah Raja-Raja Barus—Dua Naskah dari Barus (Gramedia Pustaka Utama dan Ecole Francaise d-Extreme-Orient, Jakarta, 2003).
[3] Jane Drakard, ibid.
[4] Jane Drakard, ibid.
[5] Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (Ombak, 2007).
[6] Claude Guillot (Ed.), Lobu Tua Sejarah Awal Barus (Ecole Francaise d’Extreme-Orient, Association Archipel, Pusat Penelitia Arkeologi,Yayasan Obor Indonesia—Jakarta, 2002).
[7] Claude Guillot, ibid.
[8] Lihat MA Marbun-LMT Hutapea, Kamus Budaya Batak Toba—Balai Pustaka 1987.
[9] Dipetik dari sebuah tulisan di internet. Sayang identitas penulisnya tak ada.
[10] Perkisahan ini berasal dari para narasumber Pakpak dalam wawancara di Sidikalang pada 7 Oktober 2008.
[11] Sembari meneliti sastra Batak ia pernah menjadi dosen di IKIP Medan dan USU. Lulusan Universitas Hamburg ini thesis dan disertasinya tentang sastra Batak.
[12] Uli Kozok, Warisan Leluhur—Sastra Lama dan Aksara Batak (Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient, 1999).
[13] Wawancara dengan R. Ardin Ujung di Sidikalang pada 7 Oktober 2008.
[14] Wawancara dengan para narasumber Pakpak di Sidikalang pada 7 Oktober 2008.
[15] Wawancara dengan Ranap Ompusunggu di Sidikalang pada 7 Oktober 2008.
[16] Wawancara dengan para narasumber Pakpak di Sidikalang pada 7 Oktober 2008.
[17] Wawancara dengan Abner Togatorop, mantan guru dan anggota DPRD Dairi, di Sidikalang pada 7 Oktober 2008.
[18] Wawancara dengan Abner Togatorop di Sidikalang pada 7 Oktober 2008.
[19] Tulisan ini dirujuk putranya, Saulus Peranginangin Pinem, dalam wawancara di Sidikalang 9 Oktober 2008.
[20] Wawancara dengan para narasumber di Sidikalang di Sidikalang pada 7-9 Oktober 2008.
[21] Seperti kata para narasumber, siapa pun yang masuk Tanah Karo akan terserap budaya Karo.
[22] Lihat pelbagai tulisan Martin Lukito Sinaga dan Limantina Sialoho di majalah TATAP.
sumber:http://sopopanisioan.blogspot.com/2012/04/dairi-dalam-kilatan-sejarah.html

Kamis, 31 Oktober 2013

BHK RECORD MENUJU PENTAS NASIONAL

Menhibur sepenuh hati itulah motto dari Bukit Hosanna Kreasi record(BHK) itu direalisasikan dari karya2 terbaik Album batak keluaran BHK. Para musisi yang di gandeng Bos BHK  pun terbilang musisi yang handal baik pencipta lagu maupun penyanyinya.

Setelah sukses beberapa waktu yang lalu album2 batak yang di keluarkan BHK sangat di minati para penikmat lagu2 batak,BHK record sepertinya tidak puas dengan apa yang mereka dapat.
Mereka mulai merangkak mengintip pasar nasional  dengan mengeluarkan 

'ALBUM POP INDONESIA' duet Duo Bintang

Minggu, 17 Maret 2013

10 Masa sulit dalam kehidupan rumah tangga dan Solusinya



Menikah memang membahagiakan. Namun pasti ada masa sulit yang akan dihadapi oleh pasangan suami istri. Kapan saja? Simak selengkapnya seperti yang dilansir dari Red Book Magazine berikut ini.

Bertengkar tanpa alasan
Terkadang, permasalahan di luar kehidupan rumah tangga terbawa dan mengganggu pikiran Anda. Sehingga muncul pertengkaran secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Jika hal ini terjadi, segera selesaikan masalah sebelum semuanya bertambah parah.

Masalah keuangan
Uang memang bukan segalanya, tetapi jika mau berpikir realistis, banyak hal yang dibutuhkan pasangan suami istri yang memerlukan uang. Jadi pastikan Anda maupun pasangan mengatur keuangan sebaik mungkin bersama-sama secara adil.

Bertemu keluarga besar
Setelah menikah, Anda pasti akan bertemu dengan keluarga besar pasangan. Pada awalnya memang sulit bersosialisasi dengan mereka. Namun jangan pasif dan cobalah bersikap ramah. Lagipula, keluarga pasangan adalah keluarga Anda juga.

Menyambut kehadiran anak
Tidak ada buku panduan untuk menjadi orang tua. Maka dari itu, menyambut kehadiran anak juga termasuk salah satu masa sulit dalam kehidupan rumah tangga. Lakukan yang terbaik dan jangan ragu meminta saran dari orang tua Anda.

Anak tumbuh dewasa
Setua apapun usia buah hati, orang tua pasti akan selalu menganggap mereka sebagai anak-anak. Hal inilah yang sering menjadi sumber konflik orang tua dan anak. Jadi cobalah untuk mengerti posisi anak seiring dengan bertambahnya usia mereka.

Masalah seks
Masa sulit dalam kehidupan rumah tangga berikutnya adalah ketika pasangan menghadapi masalah seks. Misalnya menurunnya libido atau gairah bercinta. Masalah ini bisa diatasi sendiri atau berkonsultasi dengan ahli terapi seks.

Mengambil keputusan besar
Entah menerima pekerjaan baru di luar kota atau rencana memiliki anak lagi, pasangan terkadang juga bertengkar soal pengambilan keputusan besar. Cobalah untuk menemukan jalan keluar terbaik dan dibicarakan bersama-sama dengan pasangan.

Kebosanan
Rasa cinta tidak selamanya bisa membara. Terkadang ada perasaan jenuh maupun bosan. Sebenarnya hal itu wajar. Namun Anda juga perlu mengatasinya dengan mencoba hal baru atau berkonsultasi dengan ahlinya agar hubungan pernikahan tidak hancur sia-sia.

Tragedi menyedihkan
Selain berkah, terkadang musibah juga menghampiri kehidupan rumah tangga. Misalnya berita duka dari keluarga. Rasa kehilangan bisa sangat menyakitkan. Jadi Anda harus saling memberi dukungan di masa-masa sulit seperti ini.

Menjadi tua
Beberapa pasangan ternyata juga khawatir tentang usia mereka. Mereka takut tidak bisa menyaksikan anak meraih impiannya. Jika Anda juga begitu, sebaiknya tidak perlu terlalu cemas. Cukup lakukan yang terbaik saat ini, masa depan ada di tangan Tuhan.

Itulah berbagai masa sulit dalam kehidupan rumah tangga. Apakah Anda juga mengalaminya?
(merdeka/16/3/13)

Minggu, 03 Maret 2013

Cintai Suamimu Seutuhnya Sebelum Terlambat

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :



Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.

Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.
Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.
Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.

Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah
karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.

Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Kamis, 21 Februari 2013

takut menikah



Hai Cantik…thanks udah mau baca ini..saya menghargai keputusanmu, mungkin saja kamu pernah sangat disakiti hingga takut untuk pacaran atau menikah, dan mungkin saja pernah ada trauma keluarga saat anda kecil. Sehingga di alam bawah sadarmu tidak mau itu terjadi pada dirimu, maka ia menciptakan mental blok agar tidak menikah. dan mungkin dg cara itu anda bisa bahagia, ini versi alam bawah sadar anda yg begitu polosnya, ia tidak tahu betapa berharganya dirimu yang harusnya segera menjadi istri dan ibu yang sangat baik membina dan membahagiakan keluargamu sendiri.

Jangan karena “kejahatan” orang lain yg pernah menyakitimu, terus mengorbankan kebahagiaanmu sendiri, dia dia..kamu kamu..
kamu tetap berhak bahagia, terlepas dari apapun yg pernah dilakukan orang tuamu atau kekasih yg pernah menyakitimu.

kamu adalah calon ibu yang baik, sekarang bayangkan deh, kamu bakal punya anak-anak yg lucu-lucu, pintar-pintar, yaa mereka anakmu, darah dagingmu, yg memberikan harapan dan semangat hidup. yaa, kamu adalah ibu mereka, mereka sangat menyayangimu, mereka sangat membutuhkanmu, lebih dari dirimu membutuhkan dirimu sendiri.
Demi anak-anak masa depanmu mohon buka hati kembali, berdoalah pada Tuhan, pasti Tuhan akan kirimkan laki2 terbaik yg menghormatimu dan mencintaimu sepenuhnya, percayalah..
kamu harus menikah yah……sip???

okee….
kamu ibu yang baikk…

apa yg membuat saya rindu mengetik ini adalah karena saya bisa begini karena seorang ibu, ibu itu mulia, saya ingin ada dedy dedy dedy lain di dunia ini..yang bersyukur atas keberadaan seorang ibu.

kamu adalah ibu yang diharapkan anak-anakmu…



from your close friend

Dedy Susanto

Senin, 18 Februari 2013

LEGENDA SI RAJA BATAK

LEGENDA SI RAJA BATAK

Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.

Mulajadi Na Bolon berkata, "Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!" Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, ketiganya adalah lelaki.

Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.

Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). "Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA," kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.
"Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?" tanya Tuan Batara Guru.

"Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya," kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.

Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.
Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.

"Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal," katanya terisak-isak.
"Jangan begitu adikku," kata Datu Tantan Debata. "Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda."

Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar "gondang" karena ia ingin "manortor" (menari) semalam suntuk.

Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya.

Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke "para-para" dan dari sana ia melompat ke "bonggor" kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!

Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.

Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. "Sorry ya, apa lagi saya," katanya.

Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar "gondang" semalam suntuk karena ia ingin "manortor" juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).

Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak.
Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.

Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.

"OK," katanya. "Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan."
Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.

Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.
Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.
Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan).

Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.

Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!

Rabu, 13 Februari 2013

Cerita Cinta Mengharukan

Cerita Cinta Mengharukan Sedih Banget

 

Andre dan Sherly adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga Sherly berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Andre hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.
Dalam kehidupan mereka berdua, Andre sangat mencintai Sherly. Andre telah melipat 1000 buah burung kertas untuk Sherly dan Sherly kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Andre telah menuliskan harapannya kepada Sherly. Banyak sekali harapan yang telah Andre ungkapkan kepada Sherly. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi Sherly dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada Sherly.
Suatu hari Andre melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Andre berkata kepada Sherly:
“Sherly, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “
Saat mendengar Andre berkata demikian, menangislah Sherly. Ia berkata kepada Andre:
“Ndre, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!”
Saat mendengar itu Andre pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada Sherly. Ia mengatai Sherly matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Dan Akhirnya Andre meninggalkan Sherly menangis seorang diri.
Andre mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap Sherly dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Andre menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Andre, ia adalah bintang kesuksesan.
Suatu hari Andre pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Andre pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua Sherly.
Andre mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Andre membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua Sherly.
Andre sangat terkejut ketika didapati orang tua Sherly memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto Sherly dalam makam itu. Andre pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Sherly untuk menemui orang tua Sherly.
Orang tua Sherly pun berkata kepada Andre:
”Ndre, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Sherly yang terkena kanker rahim ganas. Sherly menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.”
Orang tua Sherly menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Andre.
Andre membaca surat itu.
“Ndre, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputus-asaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Ndre, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Ndree……….. “
Setelah membaca surat itu, menangislah Andre. Ia telah berprasangka terhadap Sherly begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati Sherly teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Sherly kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Sherly mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap Sherly sebagai orang matre tak berperasan. Sherly telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Sungguh sangat mengharukan. Sebuah Cerita Sedih yang amat sangat menyentuh hati. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dibalik Kisah Cinta Andre dan Sherly tersebut, yang merupakan Cerita Cinta Anak Remaja yang Sangat menyedihkan dan mengharukan.
Dari Cerita sedih dan mengharukan yang dikisahkan oleh Andre dan Sherly, dapat di ambil kesimpulan bahwa “Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita”.
Apa kesimpulan Anda setelah membaca Cerita Cinta Sedih Banget dan Mengharukan Sekali diatas